Pelatih kepala Desiree Ellis mengakui bahwa investasi Maroko dalam sepak bola wanita telah mengubah peta persaingan di Piala Afrika Wanita (WAFCON). Menurut Ellis, profesionalisasi liga wanita Maroko, termasuk sistem liga dua tingkat dan dukungan finansial yang kuat, membuat tim lain harus bekerja lebih keras untuk bisa menyaingi mereka.

“Maroko memiliki liga profesional dua tingkat. Mereka jelas memiliki sumber daya dan dana yang tak terbatas untuk mendukung perkembangan sepak bola wanita,” kata Ellis setelah Afrika Selatan mengalahkan Angola 2-0 di Kejuaraan Wanita COSAFA. Pelatih Banyana Banyana menekankan bahwa perubahan ini menuntut inovasi dalam membina pemain muda agar siap menghadapi kompetisi yang semakin ketat.
Ellis menambahkan, “Kami harus mencari cara inovatif untuk membawa pemain muda secara teratur ke kamp pelatihan agar mereka memahami standar permainan yang tinggi. ” Hal ini menunjukkan keseriusan Afrika Selatan dalam menjaga kualitas tim menghadapi tantangan baru di Afrika.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Pengembangan Pemain Muda di Afrika Selatan
Pelatih asal Afrika Selatan ini menekankan pentingnya menyeimbangkan pengalaman dan usia muda di timnya. Beberapa pemain Banyana Banyana saat ini berusia antara 16 hingga 21 tahun. Namun ini juga termasuk Thorisho Mphelo (16 tahun), Zoe October (17 tahun), dan Bonolo Mokoma (18 tahun). Strategi ini bertujuan untuk memastikan regenerasi tim sekaligus memberi pengalaman internasional sejak dini.
“Kami selalu berupaya memperbarui tim, membawa pemain muda yang bisa belajar dari para senior,” kata Ellis. Ia mencontohkan pengalaman Sibulele Holweni dan Karabo Dhlamini yang bermain di Piala Dunia U17 sebelum bergabung di WAFCON 2019. Pendekatan ini memastikan kontinuitas dan adaptasi terhadap standar tinggi yang ditetapkan tim-tim seperti Maroko.
Ellis menambahkan bahwa pemain muda juga mendapatkan kesempatan belajar dari sosok senior seperti Refiloe Jane dan Bambanani Mbane, yang membantu mereka memahami strategi dan mental juara.
Baca Juga: Phallon Tullis-Joyce: Manchester United Wanita Yakin Bisa Juara WSL Meski Dana Terbatas!
Fokus Afrika Selatan di Kejuaraan COSAFA

Dalam turnamen COSAFA, Afrika Selatan memanfaatkan pertandingan melawan Angola untuk menggabungkan pemain muda dan berpengalaman. Hasil 2-0 menjadi bukti bahwa strategi Ellis berhasil memadukan pengalaman dengan energi baru. Ini juga sekaligus menyiapkan tim untuk tantangan lebih besar di WAFCON.
Ellis mengatakan, “Beberapa pemain muda awalnya khawatir, tapi mereka mendapatkan pengalaman dan motivasi untuk lebih baik di turnamen berikutnya. Itu adalah sikap yang kami inginkan.” Pendekatan ini memastikan tim selalu segar, siap, dan kompetitif menghadapi lawan-lawan kuat.
Persiapan WAFCON dan Harapan Afrika Selatan
Maroko kembali menjadi tuan rumah WAFCON untuk ketiga kalinya berturut-turut, dengan Grup A diisi Maroko, Aljazair, Senegal, dan Kenya, sementara Afrika Selatan berada di Grup B bersama Pantai Gading, Burkina Faso, dan Tanzania. Dua tim teratas dari setiap grup akan melaju ke perempat final.
Ellis menekankan pentingnya menyiapkan tim menghadapi kompetisi ini, dengan fokus pada pengembangan pemain muda dan adaptasi terhadap strategi lawan. Dengan pendekatan ini, Banyana Banyana berharap mampu bersaing menghadapi standar tinggi Maroko dan mempertahankan dominasi Afrika Selatan di sepak bola wanita. Simak terus pembahasan sepak bola perempuan terupdate lainnya hanya di footballconsultant.net.
