Manajer Manchester City, Pep Guardiola, menyuarakan dukungannya kepada anak-anak Palestina dalam sebuah acara amal di Barcelona, Kamis malam. Acara ini digelar di Palau Sant Jordi dan bertajuk Act x Palestine, sebuah konser solidaritas untuk meringankan penderitaan anak-anak di Gaza.

Sehari setelah memimpin Manchester City di Etihad Stadium, Guardiola langsung kembali ke kampung halamannya untuk menghadiri acara tersebut. Ia menjadi salah satu pembicara utama dan mengenakan keffiyeh hitam-putih khas Palestina sebagai simbol dukungan.
Pidato Guardiola berlangsung emosional dan menyentuh. Ia berbicara tentang anak-anak yang kehilangan orang tua akibat perang dan harus menghadapi puing-puing kehancuran, menyoroti betapa pentingnya perhatian dunia terhadap nasib mereka.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Pidato Emosional tentang Anak-Anak Gaza
Di atas panggung, Guardiola menyoroti dampak perang pada anak-anak Palestina. Ia mengungkapkan rasa prihatin melihat anak-anak merekam dirinya sendiri sambil bertanya “di mana ibuku?” ketika berada di tengah puing-puing, tanpa tahu nasib sebenarnya.
“Saya merasa kita telah meninggalkan mereka sendirian, kita telah mengabaikan mereka,” ujar Guardiola. Pernyataan ini mendapat tepuk tangan dari para hadirin, menunjukkan dukungan terhadap pesan kemanusiaannya.
Ia menegaskan bahwa ini bukan hanya isu politik, tetapi soal kemanusiaan. Baginya, dunia perlu melihat anak-anak ini sebagai korban nyata yang membutuhkan perhatian dan perlindungan, bukan sekadar angka statistik.
Baca Juga: Tottenham di Ujung Tanduk Setelah Kekalahan dari West Ham
Kritik Pedas terhadap Pemegang Kekuasaan

Pep Guardiola juga melontarkan kritik tajam kepada para pemimpin dunia. Ia menyebut para penguasa sebagai pengecut karena mengirim orang-orang tak bersalah untuk membunuh orang-orang tak bersalah lainnya, sementara mereka sendiri hidup dalam kenyamanan.
“Orang-orang berkuasa berada di rumah dengan pemanas saat dingin dan pendingin udara saat panas, sementara anak-anak menderita akibat perang,” lanjutnya. Pernyataan ini menggambarkan keberanian Guardiola menyuarakan pendapatnya secara terbuka.
Pidato berdurasi sekitar tiga menit itu ditutup dengan pernyataan bahwa konflik di Palestina sejatinya adalah isu kemanusiaan. Ia menekankan bahwa dunia harus peduli terhadap penderitaan yang terjadi, bukan sekadar menonton dari jauh.
Konflik Gaza dan Peran Guardiola
Kehadiran Guardiola di Barcelona terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Gaza. Israel memperkirakan sekitar 70.000 orang tewas dalam konflik, nyaris sesuai data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.
Guardiola dijadwalkan kembali ke Manchester pada Jumat, sebelum memimpin Manchester City menghadapi Tottenham Hotspur pada akhir pekan. Aksi sosial dan pidatonya di Barcelona menunjukkan sisi lain dari Guardiola, bukan hanya sebagai pelatih top, tetapi juga sebagai sosok yang peduli terhadap isu kemanusiaan global.
Selain mendukung Palestina, Guardiola sebelumnya juga mengekspresikan pandangan politik lain, termasuk dukungan terhadap kemerdekaan Katalonia. Keberanian berbicara secara terbuka ini menegaskan bahwa sepak bola baginya tidak lepas dari tanggung jawab sosial. Simak dan ikuti terus informasi sepak bola terbaru secara lengkap hanya di footballconsultant.net.
